Pagi itu udara terasa begitu sejuk. Di dalam sebuah bus kota yang penuh sesak, aku berhimpitan dengan para penumpang, sungguh terasa sangat sesak. Ditambah lagi dengan kemacetan yang sudah menjadi rutinitas kota pendidikan ini, sungguh sangat membosankan. Hari ini adalah awal aku kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM) fakultas kedokteran. Aku mendapat beasiswa berprestasi untuk kuliah di UGM. Orang tuaku hanya seorang petani teh.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan menyita waktu,
akhirnya aku tiba di tempat tujuan, tempat aku mengejar cita-cita. Tiba-tiba
ada segerombolan cowok yang ganteng, sepertinya seniorku. Banyak orang bilang
aku cantik. Aku nggak GR atau apa loh, tapi memang begitulah yang sering
kudengar. Dulu, aku sering ngaca dan membatin sendiri, benar nggak sih aku ini
cantik? Dan cermin memantulkan bayangan wajah berkulit putih dengan mata sipit
yang cantik, hidung mungil, bibir tipis yang berwarna pink asli, yang sama
sekali nggak butuh polesan lipstik. Pantas saja salah satu cowok dari mereka
melirikku sesekali.
Di hari kedua kuliah seperti biasa aku mengikuti
rutinitasku. Jam sudah menunjukkan pukul 06.57 WIB. Dengan cepat aku berlari ke
pagar sekolah. Arrhh pagarnya sudah ditutup. Aku sudah memohon-mohon kepada pak
satpamnya tapi aku disuruh pulang. Ternyata seniorku yang ganteng itu telat
juga. Setelah itu kami berkenalan. Tangannya menjabat tanganku. Namanya adalah
Andriko. Dia mengajakku sarapan di warung makan. Selang beberapa jam
kami berbincang-bincang, kemudian dia meminta nomor ponselku.
Hari menjelang sore, dia mengantarku pulang. Sepertinya
modus supaya tahu rumahku berada. Ketika sesampainya di depan rumahku, dia
melihat wajah pucatku dengan rasa khawatir. Sepertinya ia orang yang perhatian.
Lalu, dia menyuruhku masuk ke rumah dan menyuruhku istirahat.
“ Besok jangan telat lagi ya,”
kata Riko.
Malam harinya dia mengirim SMS kepadaku. Dia mengajakku
ketemuan hari Minggu nanti. Aku lompat-lompat karena senang. Aku sudah tidak
sabar menunggu hari itu tiba. Apakah aku sedang jatuh cinta? Seperti orang gila
aku menyanyi sembarang sambil membaca ulang sms itu.
Hari-hari kulalui dengan gembira. Seperti jodoh sudah di
depan mata. Hari Minggu telah tiba. Riko mengirimku SMS dan memberitahu
ketemuannya jam 3 sore. Aku mengiyakan ajakannya. Hari ini aku harus
membersihkan rumah sampai bersih agar mama mengizinkan aku keluar nanti sore.
Masih jam 12 siang, aku mulai mencari-cari baju yang cocok aku pakai. Sampai
lelahnya mencari aku tertidur dan kulihat jam sudah menunjukkan jam 6 sore.
Segera kulihat ponselku ah 12 missed calls dari Riko. Segera aku menelponnya
dan meminta maaf Karen ketiduran. Syukurlah Riko memaafkanku dan dia bilang mau
kerumahku malam ini.
Malam harinya, Riko datang dengan senyumnya yang manis. Aku
pun segera membuatkan minuman untuknya.
“Terimakasih,
Nad. Kamu cantik deh hari ini.” Puji Riko
“ Haha
kamu bisa aja. Oh iya, kamu tumben kerumah aku. Ada apa?” tanyaku.
“ Kamu
tahu Wahyu, teman aku yang pintar itu?
“
Wahyu? Yang pakai kacamata itu? Kenapa?”
“ Tadi
sore dia menelponku dan dia suka sama kamu.”
“ Hah?”
“ Iya,
Nad. Dia itu orangnya baik kok, pintar lagi. Kenalan aja dulu. Oh iya, Nad,
sebenarnya apa yang dirasakan oleh Wahyu juga dirasakan olehku. Tapi aku pikir
kamu lebih cocok dengan Wahyu.Lagi pula kita tidak seiman.”
“....”
“ Nad,
ini jam tangan untuk kamu. Aku beli saat pertama kali aku mengantarmu pulang.
Kamu pakai terus ya supaya kamu ingat waktu dan ingat aku. Supaya kamu tidak
telat terus ke kampus.”
“
Thanks Riko, aku nggak tahu harus bilang apa ke kamu.” Sedihku.
Ceritanya bagus Jun. Tapi ukuran font-nya kekecilan. Sepet mataku bacanya. :3
ReplyDeletekeren juni ceritanya, lanjutkan
ReplyDeletekeren jun. good job
ReplyDeletekeren juneee
ReplyDeleteBagus nek, beda agama? pengalaman ye :p
ReplyDeletejadi dia milih siapa ?
ReplyDeletekasian kali tuh cewek -_-
ReplyDeletekeren ceritanya jun
ReplyDeletecritanya asik jun
ReplyDelete