Monday, 1 September 2014

Akulturasi Cinta


       Pagi itu udara terasa begitu sejuk. Di dalam sebuah bus kota yang penuh sesak, aku berhimpitan dengan para penumpang, sungguh terasa sangat sesak. Ditambah lagi dengan kemacetan yang sudah menjadi rutinitas kota pendidikan ini, sungguh sangat membosankan. Hari ini adalah awal aku kuliah di Universitas Gajah Mada (UGM) fakultas kedokteran. Aku mendapat beasiswa berprestasi untuk kuliah di UGM. Orang tuaku hanya seorang petani teh.
      Setelah menempuh perjalanan yang lumayan menyita waktu, akhirnya aku tiba di tempat tujuan, tempat aku mengejar cita-cita. Tiba-tiba ada segerombolan cowok yang ganteng, sepertinya seniorku. Banyak orang bilang aku cantik. Aku nggak GR atau apa loh, tapi memang begitulah yang sering kudengar. Dulu, aku sering ngaca dan membatin sendiri, benar nggak sih aku ini cantik? Dan cermin memantulkan bayangan wajah berkulit putih dengan mata sipit yang cantik, hidung mungil, bibir tipis yang berwarna pink asli, yang sama sekali nggak butuh polesan lipstik. Pantas saja salah satu cowok dari mereka melirikku sesekali.
      Di hari kedua kuliah seperti biasa aku mengikuti rutinitasku. Jam sudah menunjukkan pukul 06.57 WIB. Dengan cepat aku berlari ke pagar sekolah. Arrhh pagarnya sudah ditutup. Aku sudah memohon-mohon kepada pak satpamnya tapi aku disuruh pulang. Ternyata seniorku yang ganteng itu telat juga. Setelah itu kami berkenalan. Tangannya menjabat tanganku. Namanya adalah Andriko. Dia mengajakku sarapan di warung makan. Selang beberapa jam kami berbincang-bincang, kemudian dia meminta nomor ponselku.
      Hari menjelang sore, dia mengantarku pulang. Sepertinya modus supaya tahu rumahku berada. Ketika sesampainya di depan rumahku, dia melihat wajah pucatku dengan rasa khawatir. Sepertinya ia orang yang perhatian. Lalu, dia menyuruhku masuk ke rumah dan menyuruhku istirahat.
“ Besok jangan telat lagi ya,” kata Riko.
      Malam harinya dia mengirim SMS kepadaku. Dia mengajakku ketemuan hari Minggu nanti. Aku lompat-lompat karena senang. Aku sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba. Apakah aku sedang jatuh cinta? Seperti orang gila aku menyanyi sembarang sambil membaca ulang sms itu.
      Hari-hari kulalui dengan gembira. Seperti jodoh sudah di depan mata. Hari Minggu telah tiba. Riko mengirimku SMS dan memberitahu ketemuannya jam 3 sore. Aku mengiyakan ajakannya. Hari ini aku harus membersihkan rumah sampai bersih agar mama mengizinkan aku keluar nanti sore. Masih jam 12 siang, aku mulai mencari-cari baju yang cocok aku pakai. Sampai lelahnya mencari aku tertidur dan kulihat jam sudah menunjukkan jam 6 sore. Segera kulihat ponselku ah 12 missed calls dari Riko. Segera aku menelponnya dan meminta maaf Karen ketiduran. Syukurlah Riko memaafkanku dan dia bilang mau kerumahku malam ini.
      Malam harinya, Riko datang dengan senyumnya yang manis. Aku pun segera membuatkan minuman untuknya.
                “Terimakasih, Nad. Kamu cantik deh hari ini.” Puji Riko
                “ Haha kamu bisa aja. Oh iya, kamu tumben kerumah aku. Ada apa?” tanyaku.
                “ Kamu tahu Wahyu, teman aku yang pintar itu?
                “ Wahyu? Yang pakai kacamata itu? Kenapa?”
                “ Tadi sore dia menelponku dan dia suka sama kamu.”
                “ Hah?”
                “ Iya, Nad. Dia itu orangnya baik kok, pintar lagi. Kenalan aja dulu. Oh iya, Nad, sebenarnya apa yang dirasakan oleh Wahyu juga dirasakan olehku. Tapi aku pikir kamu lebih cocok dengan Wahyu.Lagi pula kita tidak seiman.”
                “....”
                “ Nad, ini jam tangan untuk kamu. Aku beli saat pertama kali aku mengantarmu pulang. Kamu pakai terus ya supaya kamu ingat waktu dan ingat aku. Supaya kamu tidak telat terus ke kampus.”
                “ Thanks Riko, aku nggak tahu harus bilang apa ke kamu.” Sedihku.

9 comments: